Syariat islam merupakan landasan bagi kaum muslim untuk beramal dan segala perbuatan manusia terikat dengan syariat islam, apa yang hendak manusia lakukan atau ucapkan maka harus senantiasa berlandaskan pada hukum islam.

          Seluruh amal perbuatan manusia, tidak memiliki suatu status hukum sebelum datang pernyataan dari Syariat. Amal itu tidak tergolong wajib, sunnah, haram, makruh, ataupun mubah sebelum statusnya di tetapkan oleh syariat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di utus oleh Allah untuk membawa syariat di muka bumi ini, agar amal perbuatan manusia terarah dan mengetahui mana perkara yang harus di lakukan dan mana yang harus di tinggalkan, maka dalam konteks kerasulan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seluruh kaum muslim yang menjadi ummat beliau di perintahkan untuk melakukan amal perbuatannya sesuai dengan hukum-hukum islam yang beliau bawa. Mereka wajib menyesuaikan amal perbuatannya dengan segala perintah dan larangan Allah subhanahu wa ta’ala yang disampaikan oleh Rasulullah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya :

“Apa saja yang telah Rasul berikan kepada kalian, terimalah. Apa saja yang telah dia larang atas kalian,tinggalkanlah” (Al-Hasyr : 7)

Dengan demikian maka wajib bagi setiap muslim ketika hendak melakukan suatu perbuatan atau memenuhi kebutuhannya, bahkan mencari kemaslahatan maka secara Syar’i ia harus mengetahui hukum Allah atas perbuatan tersebut, karena keterikatannya dengan syariat yang dia imani. Dengan begitu ia tidak akan berbuat sesuka yang ia lakukan, karena sudah ada tameng pembatas antara perbuatan yang di lakukannya.

Menjalankan syariat islam bagian dari melanjutkan kehidupan islam, karena dengan syariat islamlah kaum muslim menjadi ummat yang tidak rakus, baik itu terhadap makanan, maupun terhadap harta, karena islam mengatur semua kehidupan seorang muslim dengan syariatnya, mulai ia bangun tidur sampai ia tidur lagi, ketika makan maka makanan itu harus thayib juga halal. Dalam kemaslahatan harta , maka dalam islam ada yang namanya zakat, shadaqah, infaq, dan wakaf. Dengan adanya pengamanan harta melalui zakat dan lainnya, maka akan menjadi suatu shadaqah jariyah, yang pahalanya akan terus mengalir.

Syariat islam telah mencakup seluruh perbuatan manusia, tidak ada satupun masalah yang terjadi kecuali ada pemecahanan menurut syariat Islam. Oleh karena itu, setiap muslim wajib untuk senantiasa mengaitkan seluruh perbuatannya dengan syariat Islam, tidak boleh melakukan suatu perbuatan jika tidak seseuai dengan perintah dan larangan Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka perlu kehati-hatian juga ketika melakukan perkara yang belum jelas dalilnya, apalagi tidak ada yang meriyawatkan tentang dalil itu tentang keshahihannya. Karena yang akan terjadi itu perkara Syubhat (ketidakjelasan atau kesamaran, sehingga tidak bisa diketahui halal haramnya sesuatu secara jelas) dalam agama, dan tentunya jika tidak ada dalil yang menjelaskan terhadap hukum tersebut maka perkara itu disebut Bid’ah (mengadakan sesuatu tanpa ada contohnya dari Rasul).

Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda :

“Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka (HR. An Nasa’i).

Beramal sesuai dengan apa yang Rasul dan para Sahabat contohkan, dan sebagaimana para Sahabat dan Tabi’in lakukan, agar amal tidak sia-sia dan Allah ridho dengan amal yang telah dikerjakan jika sesuai tuntunan syariat Islam.

Sumber-Sumber Syariat Islam

Sumber syariat islam harus berdasarkan ketetapan yang pasti (qath’i) kebenarannya, bukan sesuatu yang bersifat dugaan (dzanni).

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya :

“(Dan) janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya” (QS. Al – Isra : 36)

          Sumber syariat harus bener-bener berlandaaskan pada syariat Islam, agar amal perbuatan yang di kerjakan sesuai dengan sumber hukum atau dalil.

Dengan demikian maka yang memenuhi syarat untuk di jadikan sebagai sumber-sumber syariat Islam adalah, Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ Sahabat, dan Qiyas (yang mempunyai kesamaan ilat syar’i).

Oleh karena itu dengan bersumber pada ke empat hukum diatas, maka seseorang dapat beramal sesuai tuntunannya, tentunya ketika pengambilan hukum juga tidak sembarangan, melainkan ia harus mempelajari dengan benar, atau yang lebih tepat ia dapat menanyakan perihal itu, kepada orang ‘Alim (orang yang berilmu).

Pelaksanaan Syariat Islam

Pelaksanaan syariat islam hendaklah di wujudkan dalam kehidupan sehari-hari, berdasarkan kaidah dalil yang shahih. Peran pentingnya negara dalam menerapkan syariat islam sangat di butuhkan, karena untuk menaungi ummat agar terlaksananya hukum-hukum Allah, sebab negara sangat mendominasi dalam segala aspek kehidupan.

Oleh karena itu, ketika negara sudah mengatur berbagai aturan yang ada di tangah-tengah ummat dengar berdasarkan pada hukum Allah, maka terjalinlah masyarakat yang islami, masyarakat yang tunduk dengan hukum Allah, dan sangat sedikit orang yang bermaksiat, sebab faham akan adanya syariat islam. Keberlangsungan kehidupan islam tentunya disatukan oleh perasaan yang sama, pemikiran yang sama dan peraturan yang beralaskan asas islam, dengan demikian maka terwujudlah seperangkat aturan syariat islam di kalangan masyarakat dan tentunya di kendalikan oleh negara.

Melanjutkan kehidupan islam merupakan bagian dakwah yang Rasulullah dan para sahabat contohkan, karena syariat islam mengatur sedemikian apa yang sudah menjadi peraturan dalam hidup. Berbeda hal nya ketika syariat islam hanya menjadi standar ibadah ritual saja, dimana hukum-hukum islam boleh dipilih mana yang baiknya saja bagi kelangsungan hidupnya.

Denga demikian tentu pada perkara yang akan di putuskan hendaknya tidak dengan hawa nafsu, bahkan meraba dengan perasaan. Saat hukum Allah sudah di terapkan dan sudah menjadi rujukan dalam ranah kehidupan maka apapun yang ada kaiatannya dengan perbuatan manusia hendaklah di kembalikan pada syariat islam. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya:

“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu”. (QS. Al-Maidah : 48)

Seorang muslim mengetahui secara pasti bahwa Allah subhanahu wa ta’ala selalu mengawasinya. Dia juga menyadari bahwa pada hari kiamat nanti ia akan dihidupkan kembali oleh-Nya, kemudian akan dihisab terhadap amal perbuatannya yang telah dilakukannya. Ia meyakini semua ini secara pasti tanpa ada keraguan dan kebimbangan sedikit pun, dengan keyakinan ini maka masyarkat akan berhati-hati ketika akan melakukan perkara yang tidak makruf, sebab ia merasa terawasi akan adanya Allah dalam kehidupannya.

Kesimpulan

Syariat islam merupakan landasan bagi kaum muslim untuk beramal dan segala perbuatan manusia terikat dengan syariat Islam, apa yang hendak manusia lakukan atau ucapkan maka harus senantiasa berlandaskan pada hukum Islam.

Berlandaskan pada Al-qur’an, Assunnah, Ijma’sahabat, dan Qiyas syar’i. Tentunya segala aspek kehidupan dalam naungan islam dapat di aplikasikan oleh negara, berpacu dengan satu pemikiran, perasaan, dan peraturan yang sama maka sangat mudah bagi masyarakat juga untuk melaksanakan syariat islam, dan negara sangat berperan penting dalam  perannya sebagai pelayan ummat sekaligus pelaksana hukum.