Aqidah Islam (Al-Aqidah  Al-islamiyah) adalah Iman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, dan Hari akhir, juga pada Qadha dan Qadar baik buruk dari Allah. Dengan melekatnya aqidah pada diri seorang Muslim maka sangat mudah baginya ketika mengerjakan amalan makruf, karena orientasinya bukan lagi dunia, akan tetapi akhirat, dan ketika mendapat ujian maka cukup baginya mengimani terhadap ketetapan Allah, karena orang Muslim yakin apa yang Allah tetapkan terhadap kehidupannya itu yang terbaik bagi nya. Karena pada hakikatnya tidak ada qadha Allah yang  buruk, namun hanya cara pandang manusia saja yang berbeda, padahal menurut Allah itu baik baginya.

Allah tidak pernah mendzolimi hambanya, dengan ujian yang Allah ujikan kepada hambanya, maka ketika aqidah sudah menjadi ranah disetiap kehidupan menjadikan apa-apa yang Allah uji, hanya untuk meningkatkan derajat keimanan.

Aqidah islam merupakan pondasi bagi ummat muslim, karena dengan nya lah mereka meyakini adanya sang pencipta alam semesta yang mengatur dengan sedemikian rupa keindahan yang ada, maka semakin kokoh aqidahnya semakin kuat pula pelaksanaan syariat yang di embannya yakni, Al qur’an, Hadis, Ijma Sahabat, dan Qiyas syar’i.

Dengan diterapkannya Syariat Islam, melalui pemantapan aqidah tadi, maka akan terjadilah Islam rahmatan lil’alamin, kemaslahatan ummat, dan terpenuhinya segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan ummat, begitulah peran pentingnya  Islam, ketika syariat atau hukum Allah di tegakan.

Perannya aqidah sangat penting bagi ummat Islam, karena aqidah merupakan hal yang menjadikan manusia, mengetahui identitas dirinya sebagai seorang muslim, karena tanpa aqidah yang benar, tanpa aqidah yang hanif, maka aqidahnya dianggap cacat atau tidak sempurna. Dengan demikian ketika aqidahnya tidak sempurna maka amalan yang dikerjakan akan sia-sia, karena aqidah merupakan perkara yang mencakup keimanan dan keyakinannya kepada Allah, maka penting bagi ummat muslim untuk menyempurnakan aqidah nya, agar keterikatannya dengan Allah, semakin erat dan tentunya keridhoan Allah yang kita harapkan dari segala hal yang kita lakukan.

Peranan Akal Dalam Masalah Keimanan

Akal manusia mampu membuktikan keberadaan sesuatu hal berada di luar jangkauannya. Karena hal itu sudah terindra olehnya melalui  bukti – bukti yang ada pada suatu hal tersebut, misalnya ada bekas tapak kaki, menunjukkan bahwasanya pernah ada orang yang berjalan, begitulah kemampuan akal yang dimiliki manusia. 

Dalam peranan akal dalam masalah keimanan, maka Islam sudah merincikannya, mana hal yang harus diindera oleh akal manusia, dan mana yang tidak boleh, tentunya semua berhubungan dengan keimanan kepada Allah, yang berhubungan dengan dzat Allah 

Dengan keterbatasan akal maka Islam melarang manusia untuk berfikir langsung tentang dzat Allah, karena dzat Allah berada di luar jangkauan untuk akal dalam mengindra nya, maka cukuplah manusia mengimani dzat-dzat Nya Allah, tidak untuk memikirkan nya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Berfikirlah kalian tentang makhluk Allah, tetapi jangan kalian berfikir tentang dzat Allah, sebab kalian tidak akan sanggup mengira-ngira hakikat-Nya yang sebenarnya” (HR. Abu Nuaim dalam Al- hidayah).

Oleh karenanya, maka dengan keterbatasan akal yang dimiliki manusia maka jangan sekali-kali mengira tentang dzat –Nya Allah,  karena sampai kapanpun tidak akan mampu menjangkau terhadap dzat-Nya Allah.

Sebagai seorang muslim, kita hanya percaya dengan sifat-sifat Allah yang di kabarkan –Nya , melalui wahyu. Dengan demikian maka akan menambah keimanan kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Proses Keimanan

Proses keimanan mampu dicapai dengan aqidah yang sudah melekat pada dirinya, mampu membuktikan keberadaan sesuatu hal berada di luar jangkauannya, mengimani dan percaya terhadap sifat-sifatnya Allah.

Proses keimanan juga dapat dicapai melalui proses berfikir, yakni berfikir adanya pencipataan alam semesta, manusia dan kehidupan ini. Tentu ada beberapa pertanyaan siapa yang menciptakan semua itu ?

Islam menjawab bahwa yang menciptakan penciptaan segala yang ada di alam semesta ini, adalah Al – Khaliq (sang pencipta), yakni Allah azza wa jalla yang bersifat kekal, yang mampu mengatur segala aspek kehidupan, maka wajib atasnya kita mengimani apa yang telah diciptakan, dan mentadabburi terhadap alam ciptaan yang tertanan rapih dan indah. 

Melalui proses keimanan ini, maka seorang muslim akan mampu mengetahui bahwa di balik alam dan kehidupan ini ada sang pencipta yang mengadakan seluruh alam, termasuk diri-Nya, memberi tugas atau amanah kehidupan kepada manusia, dan kelak ada kehidupan lain setelah dunia ini, yang menghisab seluruh perbuatannya di dunia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya :

“Pada hari ini, tiap – tiap jiwa di beri balasan sesuai dengan apa yang telah di kerjakannya, tidak ada yang di rugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya” (QS. Ghafir : 17).

Konsekuensi Iman Kepada Allah, Rasulullah Dan Al Qur’an

Konsekuensi iman kepada Allah adalah tunduk dan patuh terhadap apa yang di perintahkan, dan meninggalkan apa yang di larang.

Dengan konsekuensi keimanan maka wajib baginya mengimani hari kebangkitan adanya surga dan neraka, hisab dan siksa, juga mengimani adanya malaikat, jin dan setan, serta apa saja yang telah di terangkan al-qur’an dan hadis qath’i.

Oleh karena itu maka kita juga wajib meyakini adanya kehidupan setelah kematian yakni adanya alam akhirat, adanya proses penciptaan oleh-Nya. Ketika aqidah sudah kokoh, dan keimanan sudah tunduk pada syariat-Nya, maka selanjutnya menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan terbaik. Menjadikan risalah yang dibawa nya sebagai acuan untuk beramal, karena apa yang dibawa oleh Rasulullah itu berupa wahyu, dan tentunya segala yang di kabarkan oleh Rasulullah tidak akan pernah salah karena Rasulullah di ma’sum (Terjaga dari maksiat). Menjalankan sunah-sunah Rasulullah, dan mengikuti tata cara Rasul dalam berdakwah, serta tidak melakukan perkara yang samar-samar dalam ibadah, karena Rasul tidak pernah mencontohkannya.

Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam, senantiasa mengupayakan ummatnya agar mempelajari Al-qur’an, memahami serta mengamalkannya, karena Al-qur’an merupakann salah satu mukjizat yang Allah berikan kepada Rasulullah melalui perantara malaikat jibril, sebagai pembeda antara yang haq dan yang batil.

Al-qur’an merupakan kalam Allah subhanahu wa ta’ala, dengan adanya al-qur’an, maka seluruh aspek kehidupan yang manusia jalani haruslah bersumber dari al-qur’an, sebab al-qur’an telah menjelaskan dan mengatur mana yang wajib mana yang haram, mana yang harus ditinggalkan dan mana yang harus dilaksanakan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya :

“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli, dan mengharamkan riba” (Al-baqarah : 275)

Inilah peran pentingnya al-qur’an sebagai pegangan ummat dalam melaksanakan hukum-hukum Allah, serta sebagai petunjuk bagi ummat yang mau berfikir terhadap kebesaran Allah.

Kesimpulan

Aqidah islam (Al-Aqidah  Al-islamiyah) adalah iman kepada Allah para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari akhir, juga pada qada dan qadar baik buruk dari Allah.

Iman sendiri artinya tunduk/patuh terhadap rukun iman, karenanya proses menuju keimanan dapat dicapai melalui berfikir mustanir, berfikir bagaimana adanya penciptaan alam semesta, manusia dan kehidupan. 

Oleh karenanya konsekuensi keimanan ialah menjalankan apa yang telah Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang di larang-Nya, dan tentunya menegakan hukum-hukum Allah dengan berasas Al-qur’an, dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan di terapkannya hukum Allah maka akan terjalin Islam Rahmatan lil’alamin, Islam Baldatun Thoyibah wa Rabun Ghofur.